21
Okt
08

Are Cities More Important Than Countries?

Serangkaian dengan anniversary Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS) ROtterdam yang ke 50, bekerjasama dengan AIR (Rotterdam centre for Architecture) dan International Architecture Biennale Rotterdam (IABR), IHS menyelenggarakan acara Urban Meetings dengan tema pokok Urban Management Meets Urban Design.

Acara ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengeksplorasi seluruh outlines yang terkait dengan permasalahan urban yang tertuang dalam Urban Agenda for the 21st Century. Para pembicara dalam forum ini adalah urban profesional terkenal dari seluruh dunia dan akan melakukan sharing pengalaman dan pandangan terhadap permasalahan perkotaan dan urban dengan pengambil kebijakan di Kota Rotterdam, arsitek, dan urban manager. Urban Meetings kali ini mengkaitkan isu isu global dengan permasalahan lokal dan mencoba menjalin keterkaitan antara urban manager dan developer di satu sisi dengan urban designer dan arsitek di sisi yang lain.

Setidaknya terdapat enam isu sentral yag dibahas dalam agenda Urban Meetings diantaranya:

1. Are Cities More Important than Countries? menampilkan Jan Pronk (Former Minister and Special Representative of the United Nations)sebagai pembicara utama. Isu yang dibahas adalah menginvestigasi motto urban Meetings kali ini yaitu: Cities Are More Important than Countries. Bagaimana kota menentukan hidup jutaan manusia yang beraktivitas di dalamnya?

2. Sustainable Cities menampilkan Jaime Lerner (Architect and Former Mayor of Curitiba (Brazil)) menerangkan strategi yang diterapkannya dalam membangun Kota Curitiba. Dengan membangun jaringan antara Social Programme, Functional Programme, Environmental Programme, Lerner menata, ketika masih menjadi Mayor, untuk membangun Curitiba menjadi satu dari kota paling progressive dalam bidang sustainability. Sebagai pembicara tambahan dalam sesi ini ditampilkan pula Arjan Dikmans yang merupakan managing director Rotterdam Climate Initiative dan Floris Alkemade dari kantor arsitek Office for Metropolitan Architecture (OMA)

3. Leading Cities dengan pembicara Anthony Williams yang merupakan former mayor Kota Washington D.C. yang akan menjelasakan bagaimana dia memanage dan menurunkan dampak negative pembangunan urban di wilayahnya, dimana Urban politics memegang peranan yang sangat kuat dalam membentuk karakter kota dan mempengaruhi warga kotanya. Dia meningkatkan posisi finansial Washington dan menciptakan investasi positif dan membangun iklim, meningkatkan kepedulian sosial perkotaan dengan membuat setiap orang memiliki akses terhadap kesehatan dan membangun proyek proyek yang inovative. Dalam presentasi dengan tema leading cities ini, dihadirkan pula Ivo Opstelten (Mayor of Rotterdam City) dan Kees Christiaanse (Curator of the 4th International Architecture Bienalle Rotterdam, partner in KCAP dan member London Design Advisory Board).

4. Safe Cities. Bagaimana kita menciptakan rasa aman dalam kota yang berkembang dengan cepat, hari ini dan di masa yang akan datang? Lydia Fitchko (Director of Social Policy, Analysis and Research in the Social Development Division of the City of Toronto)menjelaskan, bagaimana sebuah kota melakukan pendekatan terhadap issue keamanan. Keamanan komunitas dituntut lebih dari sekedar ketiadaan kekerasan di dalam kota. Keamanan komunitas adalah hak sosial dan keberlangsungan hidup komunitas. Keamanan ditangani dalam skala yang beragam, dari lngkungan sekitar rumah hingga distrik, dan menyentuh pula level metropolitan.

5. Inclusive Cities. Apakah partisipasi warga dan pengguna ruang kota berkontribusi terhadap pembangunan spatial kota? contoh contoh dari seluruh dunia menunjukkan bahwa partisipasi dapat meningkatkan kualitas kehidupan perkotaan, bahkan dalam kelmpok warga yang lemah sekalipun. Francisco Maria Orsini (engineer) menjelaskan bahwa setelah proyek transportasi publik, yang sama sekali baru, diterapkan, situasi warga kota yang tinggal di perumahan informal berubah dengan drastis. warga yang selama ini terpinggirkan dari kehidupan kota, kali ini merasa menjadi bagian dari kota Medellin (Kolombia).

6. My City. Buku De Lat Steeds Hoger (Aiming Higher) menampilkan anak anak muda Turki dan Marroko mengidentifikasi dan membandingkan kota tempat mereka tinggal dengan Belanda sebagai sebuah negara. Mereka memposisikan diri sebagai orang Turki, Maroko, Antilleans dan bahkan Rotterdam. Han Entzinger menyimpulkan aturan sebuah kota dalam hal identitas kultural. Hadir pula dalam sesi ini Nadia Jellouli-Guachati dari kantor XS2N Architects.

dalam pemaparannya yang sangat impresive, Jan Pronk menerangkan bagaimana pentingnya membangun perekonomian perkotaan, karena jka kita memiliki ekonomi perkotaan yang kuat, maka keadaan negarapun akan lebih stabil. Motto Urban Meetings: Cities are More Important than Countries,mendapat banyak kritik dari peserta yang juga hadir dari seluruh dunia. Pandangan yang menyatakan bahwa kemakmuran wilayah perkotaan akan membantu atau memberi pengaruh yang kuat bagi kemakmuran wilayah perdesaan juga mendapat kritikan dan dukungan yang nyaris seimbang. Tidak mudah untuk memberi penilaian, mana yang lebih baik dan lebih benar. tentu semua harus dikembalikan dalam konteks pemikiran masing-masing. satu hal yang perlu dicatat adalah, baik kota maupun negara adalah milik warganya. Apapun yang hendak dilakukan atau dikembangkan di kota atau negara tersebut, hendaknya mempertimbangkan kesejahteraan warganya.


1 Response to “Are Cities More Important Than Countries?”


  1. Februari 15, 2009 pukul 1:32 am

    Wah Wah Wah… ini beneran mangDe nok !!!
    -pandebaik.com-


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: