22
Okt
08

Konsepsualisasi Kemiskinan Perkotaan (Urban Poverty)

Pendahuluan

Dalam wacana urban poverty, Ellen Wratten menyatakan terdapat tiga hal pokok yang harus menjadi perhatian dan isu bersama. Pertama, bagaimana dan oleh siapa kemiskinan perkotaan didefinisikan, serta bagaimana kita mengukur tingkat kemiskinan tersebut? kedua adalah Wratten mempertanyakan apa perbedaan kemiskinan perkotaan dengan kemiskinan secara umum, apa bedanya dengan kemiskinan di perdesaan misalnya? terakhir adalah bagiamana prinsip prinsip kemiskinan perkotaan dipahami, dari sisi wilayah serta dari sisi kebijakan penanggulangannya.

Dilihat dari sudut pandang geografis dan dari sisi ekonomi, antara tahun 1980an hingga 1990an, peningkatan kemiskinan terjadi secara drastis di wilayah perkotaan. Peningkatan kemiskinan di perkotaan terjadi akibat tingginya angka urbanisasi. Dalam dua dekade mendatang, populasi manusia yang hidup di wilayah perkotaan akan mengambil alih konsentrasi populasi yang selama ini tinggal di wilayah perdesaan untuk yang pertama kalinya. Dengan terjadinya urbanisasi yang demikian pesat, maka angka kemiskinan di perkotaanpun diperkirakan akan mingkat dengan cepat.

Mendefinisikan dan Mengukur Kemiskinan Perkotaan

Tidaklah mudah mendefinisikan kata ‘kemiskinan’. Siapa yang semestinya memberi definisi ‘kemiskinan?’ Di tengah sulitnya mendefinisikan kemiskinan, pendapat umum menyatakan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan atau ketidakberdayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar untuk mencapai kebahagiaan.  Meskipun pendapat tersebut sudah diterima secara luas, namun masih sangat sulit dan sangat subjektif sifatnya untuk menentukan kebutuhan dasar manusia dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut. Apakah setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, maka dapat dikatakan seseorang telah bahagia? Akibat sulitnya pendefinisian tersebut, maka masing masing kelompok masyarakat diperkenankan untuk menentukan sendiri definisi kebutuhan hidupnya serta mengukur tingkat kemiskinannya.

Definisi Konvensional

Definisi berdasarkan pendapatan dan pengeluaran

beberapa ahli ekonomi menyatakan bahwa kesejahteraan seseorang dapat diukur melalui tingkat pendapatannya. Dalam kehidupan sehari-hari pendapatan dan pengeluaran, kerapkali dipakai sebagai tolok ukur untuk menentukan atau mendefinisikan kesejahteraan. Kurangnya pendapatan dikaitkan secara langsung sebagai penyebab kemiskinan dan penderitaan. Seseorang dikatakan misin jika pendapatan yang diperoleh tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar yang dipersyaratkan untuk dapat hidup.  World Bank dalam laporan World Development Report menggunakan dua patokan pendapatan standar untuk mendefinisikan kemiskinan. Seseorang dengan pendapatan perkapita di bawah USD 370 per tahun dinyatakan miskin, dan yang pendapatannya di bawah USD 275 per tahun, dinyatakan sangat miskin.  dalam tahun 1994 1,39 miliar penduduk dunia dinyatakan tergolong sebagai penduduk miskin.  Di beberapa negara, data pendapatan dan pengeluaran digunakan untuk mengukur ‘orang miskin baru’, ‘dalam garis kemiskinan’ serta ‘sangat miskin’, dimana kondisi ini sudah terjadi semenjak belum ditetapkannya kategori kemiskinan.

Definisi Kemiskinan Absolut dan Relatif

Jika kemiskinan akan didefinisikan secara absolut, maka kebutuhan dasar manusia harus pula didefinisikan secara absolut dan fixed, antara lain kebutuhan rumah tangga, kebutuhan pelayanan (services), antara lain air bersih, sanitasi, kesehatan,  pendidikan serta transportasi. Definisi absolut ini biasnya digunakan oleh world bank atau pemerintah dalam penyusunan program penanggulangan kemiskinan. Pendefinisian absolut ini mengabaikan faktor perubahan pendapatan serta perubahan kebutuhan mendasar yang umumnya makin meningkat.

Konsep atau definisi relatif, bersifat lebih fleksibel. Kebutuhan minimun dapat disesuaikan dengan kondisi faktual masyarakat dan standar hidup seseorang dapat pula disesuikan dengan faktor waktu misalnya sebagai bahan pertimbangan.  mendefinisikan kemiskinan secara relatif, Peter Townsend (1993) menyatakan, “the conditions of life-that is the diets, amenities, standards, and services-which allow them to play the roles, participate in the relationships and follow the customary behaviour which is expected of them by vitue of their membership of society” . Jika definisi ini dipakai, maka akan ditemui lebih banyak kemiskinan di New York, London atu Tokyo dibandingkan di New Delhi, Lusaka, atau bahkan di Denpasar, karena kemiskinan sangat bersifat relatif.  Akan tetapi jika menggunakan standar dari kemiskinan dari Bank Dunia, maka hanya beberapa gelandangan di kota London saja yang akan tergolong miskin, karena jaminan sosial bagi  pengangguran di London berada di atas ambang kemiskinan versi World Bank.

Definisi Kemiskinan Berdasarkan Indikator Sosial

Banyaknya faktor yang mempengaruhi sulitnya mendefinisikan kemiskinan dari sisi pendapatan dan pengeluaran, maka sosial indikator sering dipakai sebagai tolok ukur tambahan. Beberapa indikator sosial yang sering dipakai sebagai indikator atau tolok ukura keniskinan antara lain: umur hidup (life expectancy), kematian bayi, asupan gizi, proporsi pendapatan yang dipakai untuk membeli makanan, tingkat pendidikan, akses kesehatan dan ketersediaan serta kebersihan air minum.

Begitu banyaknya indikator yang dipakai sebagai tolok ukur untuk mendefinisikan kemiskinan, seperti di laporan World Bank, “world Development Report”, variabel yang berbeda mungkin menyatakan berbagai konflik kepentingan tentang pola-pola perebutan simpati atau kekuasaan. Dalam pelaksanaannya, pendapatan dan pengeluaran lebih sering dipakai sebagai patokan utama bagaimana kemiskinan didefinisikan.

Untuk memecahkan masalah pendefinisian kemiskinan, beberapa variabel utama dicoba unutk dijadikan sebagai variabel pokok. Human Development Index yang dikeluarkan oleh UNDP, menggunakan variabel pendapatan, angka buta huruf dan jangka waktu hidup (life expectancy) sebagai tolok ukur tunggal dalam penentuan standar hidup dengan faktor nilai antara skala 0 sampai 1. contoh contoh lain menyertakan Phisycal Quality of Life Index, the Food Security Index, dan Relative Welfare Index. Semua tolok ukur tersebut bukanlah sesuatu yang pasti. Lebih jauh, mereka mengukur kemiskinan dari sisi luar dan tidak dari sisi orang miskin itu sendiri.

Definisi Participatory

Kerapuhan (Vulnerability) dan Kepemilikan

Kerapuhan (vulnerability) tidaklah sama dengan kemiskinan. Kerapuhan didefinisikan sebagai ketidakberdayaan, rasa tidak aman, terbuka terhadap ancaman dan risiko, shock dan stress. kerapuhan berhubungan langsung dengan aset dasar seperti kesehatan, pendidikan, aset produktif seperti rumahdan perlengkapannya, akses ke pelayanan umum, simpanan uang, perhiasan. Sementara kemiskinan akibat kurangnya pendapatan bisa diatasi dengan cara meminjam, tetapi dengan memilki utang maka oang yang miskin akan semakin berada dalam kondisi yang rapuh. Titik kritis di mana orang miskin memiliki asa takut terlilit utang menjadikan permasalahan kemskinan dan kerapuhan semakin rumit.

Konsep Kemiskinan Perkotaan (Urban Poverty): Sebuah Perspektif Historis

Perdebatan tentang kemiskinan perkotaan berlangsung di medan yang berbeda antara dunia barat dan timur. secara sejarah, literature tentang pembangunan memfokuskan pembahasan pada ketidakseimbangan antara wilayah desa yang miskin dengan wilayah perkotaan yang lebih kaya, serta hubungan antara urbanisasi sebaran modal dan kemiskinan.

Bias masalah perkotaan menjadi tema pembicaraan pokok diantara agen pembangunan tahun 1970an dan 1980an. Di banyak negara di bunia ketiga, program pengentasan kemiskinan diarahkan untuk meningkatak kualitas hidup di perdesaan tertinggal. Pertengahan tahun 1980an penyesuaian dilakukan dengan memberikan subsidi bagi penduduk perkotaan dan meningkatkan harga harga untuk meningkatkan produksi di perdesaan.

Di kota-kota industri Eropa dan Amerika, mayoritas penduduk (termasuk juga golongan miskin) hidup di perkotaan semenjak awal abad kedua puluh. Konsekuensi dari kodisi ini adalah, kemiskinan perkotaan dan iset mengenai konsep kemiskinan perkotaan telah pula berlangsung sejak awal abad kedua puluh tersebut. Akibat besarnya peran image  perkotaan, definisi kemiskinan perkotaan, sering dianggap tidak sama dengan definisi kemiskinan secara umum.


1 Response to “Konsepsualisasi Kemiskinan Perkotaan (Urban Poverty)”


  1. Juli 15, 2011 pukul 7:56 am

    OKK……… TUGAS KELAR tapi ribet e hhe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: