06
Jul
10

FILM DAN RISET Riset Tata Ruang dengan Methode Case Study di Ayigya, Kumasi Ghana

PENDAHULUAN

Lingkungan binaan adalah lapangan yang sangat luas dan menarik minat banyak periset untuk melakukan riset dari berbagai disiplin ilmu dengan berbagai sudut pandang metodenya masing masing. Seringkali riset di dalam dunia lingkungan binaan menggunakan metode case study dengan mengunakan set prosedur untuk menjawab pertanyaan riset.

Banyak pertanyaan riset dalam bidang ilmu lingkungan binaan yang memerlukan berbagai disiplin ilmu lain untuk melalukan investigasi termasuk ilmu seni, ekonomi, hukum, filsafat, sosiologi, statistic dan disiplin ilmu yang lainnya.

Di dlam tulisan ini akan dibahas riset tata ruang yang dilakukan oleh penulis di distrik Ayigya, Kota Kumasi Ghana di Afrika Barat. Riset yang dilakukan mengunakan metode case study untuk membatasi area dan topik riset sehingga diperoleh hasil yang optimal. Rentang waktu riset dipakai mulai dari saat berkembangnya kota Kumasi pada masa pendudukan oleh Inggris hingga saat ini. Pada masa pendudukan Inggris, penyusunan tata ruang kota dilakukan dengan pedoman yang sering diistilahkan sebagai British System yang mengacu pada Town and Country Planning Ordinance yang juga diberlakukan di Inggris.

Untuk melacak jejak perencanaan tata ruang serta sejauh mana partisipasi masyarakat dilibatkan dalam perencanaan tata ruang, dilaukan riset case study. Wilayah yang diriset dibatasi pada distrik Ayigya dengan tema sentral partisipasi masyarakat dalam penataan ruang. Dari tema sentral yang ditetapkan maka akan banyak melibatkan observasi lapangan serta wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat maupun yang terdampak oleh penataan ruang.

CASE STUDY RISET DALAM DUNIA RANCANG BANGUN (BUILT ENVIRONMENT)

Gambaran Umum Case Study

Case study riset adalah suatu strategi yang dipergunakan untuk riset teori eksperimental atau suatu topic dengan menggunakan set prosedur, seringkali melibatkan beberapa kombinasi pengumpulan data yang berbeda beda, seperti wawancara, bukti bukti dokumen, pengamatan lapangan yang ditujukan untuk melakukan investigasi suatu fenomena di dalam konteks riset (Fellows and Liu, 2003). Stratgeu case studi sering mengadopsi metode triangulasi, yaitu melakukan pengumpulan data dari tiga sumber yang berbeda (Yin, 2003).

Keunggulan dari strategi riset case studi terletak pada validity data yang didukung oleh, minimal, tiga sumber data utama untuk menguji suatu konsep atau teori sehinga hasilnya akan lebih objektif. Biasanya beberapa data quantitative dipergunakan untuk mendukung data data qualitative yang bersifat primer.

Menurut Remenyi et al (2002) beberapa hal yang menjadi karakter case studi adalah:

  • suatu penelitian yang besifat rangkaian kegiatan (story)
  • memerlukan sumber data beragam (multiple source of evidence)
  • bukti bukti atau data data berdasar atas metode triangulation
  • menunjukka baik pengertian mendalam terhadap issu sentral dan pemahaman luas terhadap issu issu lain yang terkait dengan konteks
  • memiliki batasan yang jelas terhadap focus baik berupa organisasi, situasi atau suatu konteks
  • dapat disimpulkan secara rasional serta tidak melibatkan issue yang terlampau luas baik secara temporal atau spatial.

Beberapa Batasan Dalam Case Study Research

Untuk melaksanakan investigasi dalam riset dengan metode case study, beberapa hal perlu untuk diperhatikan ( Haigh, 2008), antara lain :

  • waktu yang tersedia untuk melaksanakan riset

hal ini sangat dipengaruhi oleh kemungkinan untuk melaksanakan longitudinal atau cross sectional studi. Dengan longitudinal studi, focus riset diarahkan pada investigasi terhadap suatu subjek untuk mengidentifikasi perubahan atau pembangunan selama kurun waktu tertentu sementara cross sectional studi diarahkan untuk mengamati suatu moment dalam suatu waktu atau bersifat snapshot. Longitudinal studi membutuhkan waktu yang lebih relative lebih lama dibandingkan dengan cross sectional studi.

  • ketersediaan dokumen dokumen informasi

komponen kunci dalam case studi riset difokuskan pada penggunaan informasi eksisting yang tersedia dan dirumuskan dari unit yang hendak dianalisis. Dokumen dapat berupa gambar gambar rencana, spesifikasi, dokumen kontrak, korespondensi, kebijakan. Akses kepada dokumen dokumen ini bisa bersifat rahasia sehingga memerlukan strategi khusus untuk dapat diperoleh.

  • akses kepada pihak pihak yang terkait (untuk kepentingan wawancara)

interview seringkali dipandanag sebagai salah satu sumber terpenting dalam riset case studi ( yin 2003a). wawancara harus didesain terhadap orang atau badan yang terlibat langsung dengan kasus. Desain wawancara harus dis=desain dengan cermat dan detail untuk memperoleh hasil yang maksimal.

  • tujuan investigasi

Subjek yang diinvestigasi akan menentukan fokus teknik pengumpulan data dan signifikansinya terhadap riset. Tujuan dan sasaran riset akan sering mendikte tata cara investigasi

  • jumlah kasus yang ditangani

apakah difokuskan pada satu kasus tunggal ataukah beberapa kasus dengan issue yang kompleks. Pemilihan kasus harus diimbangi oleh distribusi sumber daya yang tersedia jika menggunakan dua atau lebih kasus.

Metode Pengumpulan Data

Data data dalam case studi riset harusdikumpulkan dari berbagai sumber yang terpercaya.dalam case studi keberagaman data sangat tergantung dari pilihan topic serta tingkat reliabilitas yang hendak dicapai. Gillham (2000) dan  Yin (2003a) secara umum mengelompokkan data yang perlu dikumpulkan kedalam enam kategori besar yaitu:

  • Dokumen.

Dokumen dapat berbentuk surat, kontrak, laporan pelaksanaan kegiatan, tau dokumen dokumen lainnya. Kebutuhan dokumen sangat tergantung pada topik yang hendak dianalisis.

  • Rekaman arsipal (Archival records).

Rekaman arsipal dapat berupa sejarah organisasi, atau laporan rangkaian kegiatan proyek dalam kurun waktu tertentu.

  • Wawancara (Interviews).

Interview merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam penelitian case study dan diperlukan untuk memahami sepenuhnya keinginan, pengalaman atau peranan seseorang dan dapat juga mengetahui pandangannya terhadap topic yang akan dianalisis.

Interview dapat berbentuk ope ended atau closed ended. Dalam hal riset case study, interview openended lebih sering dipergunakan untuk mengali sedalam dalamnya informasi dari seseorang.

  • ‘Detached’ or direct observations.

Observasi bebas atau observasi langsung dlakukan dengan cara ‘mengamati dari luar’ suatu fenomena yang terjadi. Data yang diperoleh melalui observasi dilakukan oleh periset dengan melihat dan mendengar sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan topic studi. Biasanya informasi yang diobservasi direkan ke dalam format yang sudah didesain sebelum fieldwork dilaksanakan. Informasi yang sudah terekam dalam suatu format ini kemudian dianalisis

  • Observasi oleh partisipan. Participant observation.

Jika observasi langsung biasanya dipergunakan untuk memenuhi data qualitative, maka observasi oleh partisipan dipakai untuk memenuhi kebutuhan data qualitative. Dengan teknik ini, periset tidak hanya mengamati dari luar tetapi ikut larut di dalam situasi atau di dalam unit yang dianalisis.

  • Physical artefacts.

Pengamatan terhadap artefak fisik biasanya dipergunakan di dalam riset riset anthropologi. Pengamatan bisa dilakkan terhadap komponen bangunan, bangunan itu ssendiri atau terhadap sekumpulan bangunan di dalam suatu lingkungan.

Melihat kasus yang hendak distudi, berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam tata ruang, maka dirancang suatu case study riset dengan mengambil area riset di Ayigya District, Kumasi, Ghana.

PENGUNAAN KAMERA VIDEO DALAM CASE STUDY RISET TATA RUANG DI  AYIGYA, KUMASI, GHANA

Gambaran Umum Area Studi

Laporan UN-HABITAT dalam State of Afrcan Cities (2008) meramalkan bahwa kota kota di Afrika dengan penduduk kurang dari 500.000, saat ini menyerap tidak kurag dari 2/3 pertumbuhan urban. Tingginya arus urbanisasi yang dialami oleh wilayah urban di Afrika memberi tekanan terhadap kesiagan kota sebagai pelabuhan akhir kaum urban. Dalam beberapa tahunke depan, kondisi ini akan memaksa kota kota afrika untuk menyiapkan perumahan, infrastruktur, layanan social dan kondisi hidup yang memadai bagi warganya yang akan berjumlah dua kali lipat dalam decade ke depan. Kinerja makro dan mikro ekonomi sangat berpengauh terhadap kondisi urban penduduk di Afrika. Desentralisasi yang dilakukan dalam berbagai bidang i negara negara Afrika belum diikuti oleh ketersediaan sumber daya yang memadai.

Minimnya sumber daya yang dimiliki oleh pemerintah dibarengi dengan kondisi perekonomian penduduk urban yang sangat terbatas selanjutnya memberi pengaruh pada penataan ruang kota kota Afrika. Data data menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pembangunan kawasan urban di kota kota Afrika masih sangat minim. Partisipasi masyarakat sering diasosiasikan dengan pendekatan bottom up sebagaimana dikemukakan oleh El Masri dan Kellt (2002) serta Lizarralde dan Mark Massyn (2008). Banyak perencana kota yang percaya bahwa pendekatan yang bersifat bottom up akan lebih menjangkau targeted group dalam suatu komunitas, level grass root dan dapat mendorong kepercayaan diri masyarakat di dalam pelaksanaan pembangunan. Untuk dapat melaksanakan pendekatan bottom up, maka diperlukan minimal dua pihak yaitu masyarakat dan pemerintah yang memiliki kemauan dan visi bersama untuk melaksanakan pembangunan. Kehendak kedua belah pihak ini harus dirumuskan secara bersama sama dan dilaksanakan serta diawasi secara bersama sama pula.

Kumasi merupakan kota terbesar kedua di Ghana setelah ibu kota Accra. Secara tradisional, Kumasi merupakan salah satu wilayah yang memiliki sejarah yang cukup panjang. Di Kota ini bermukim warga Ashanti yang merupakan kerajaan terbesar di Ghana, namun saat ini mengalami arus urbanisasi yang cukup pesat. Wajah permukiman kota Kumasi merupakan campuran antara Compound House Tradtional dan bangunan modern kontemporer dan bangunan bangunan temporer hingga bangunan setengah jadi namun sudah dihuni.

Riset ini dilakukan di salah satu wilayah di kota Kumasi, yaitu Ayigya, tempat di mana penduduk tradisional warga Ashanti (asantehene) dan pendatang dari wilayah utara Afrika (the northerners) tinggal bersama sama dalam satu wilayah. Dalam beberapa tahun belakangan kaum urban dari berbagai wilayah Ghana bergabung dan tinggal berbaur dengan penduduk yang sudah tinggal di wilayah tersebut sebelumnya.

Gambar 1 Menggambarkan kota Kumasi dan Ayigya Council

Sumber: Ministry of Local Government and Rural development and Environmental. 2006. Development Plan for Kumasi Metropolitan Area (2006-2009)

Tujuan Riset

Riset ditujukan untuk melakukan analisis terhadap proses perencanaan tata ruang di Gnaha secara umum, mengeksplorasi proses yang diimplemntasikan, memahami permasalahan perencanaan tata ruang, mengidentifikasi situasi yang dikehendaki di masa mendatang, dan kemungkinan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan tata ruang.  Peranan angota masyarakat demikian juga peranan peranan pemimpin adapt serta pemilik lahan dianalisis untuk mengukur level partisipasinya di dalam penyusunsn rencana tata ruang. Kesimpulan diarahkan pada seberapa besar peluang untuk meningkatkan partisipasi dalam penataan ruang serta tantangan yang dihadapi.

Tantangan dan Durasi waktu pelaksanaan riset

Lokasi riset yang seutuhnya merupakan area baru bagi periset merupakan tantangan yang menggugah rasa penasaran. Bayangan tentang lokasi riset didapat melalui berbagai tulisan dan video yang tersedia di internet.

Sekalipun sebagian besar calon interviewee berbicara dalam bahasa inggris, namun logat bahasa inggris orang afrika cukup sulit dicerna oleh telinga orang indonesia. Kadang kadang misintepretasi dapat terjadi akibat gap yang ditimbulkan oleh perbedaan logat. Selain logat, sebagian besar penduduk yang akan diwawancara tidak menguasai bahasa inggris (bericara dalam bahasa lokal Twi) sehingga memerlukan penerjemah dalam setiap wawancara.

Waktu yang tersedia untuk pelaksanaan riset adalah 3 bulan dengan pelaksanaan survey lapangan selama 30 hari. Waktu pelaksanaan survey lapangan yang relatif singkat menyebabkan banyak hal harus dipersiapkan dengan matang sebelum berangkat ke area studi. Batasan lain adalah tidak memungkinkan untuk dilakukan kunjungan lapangan ulang untuk melengkapi kembali data sekiranya setalah survey lapangan dilakukan masih dirasa terdapat data yang kurang.

Sebelum pelaksanaan survey lapangan, selama sebulan sebelumnya dilakukan workshop untuk mempersiapkan segala kepelrluan survey antara lain:

  1. observation sheet
  2. interview sheets
  3. interview chart
  4. document sheets

semua keperluan survey dites di dalam suatu workshop riset untuk memeriksa apakah semua area, semua pertanyaan, semua dokumen yang dibutuhkan memiliki peluang ang tinggi untuk diperoleh.

Dengan durasi yang cukup mepet, sementara data yag harus dikumpulkan relatif banyak serta area study yang benar benar baru memerlukan alat untuk melakukan pencatatan serta perkaman yang optimal. Penggunaan kamera video yang mampu merekam audio serta vidoe secara real time akan sangat membantu. Dengan segala keunggulannya diputuskanlah bahwa seluruh kegiatan riset akan dilakukan dengan seoptimal mungkin menggunakan alat perekam audio visual. Agar kegiatan perekaman berlangsung optimal maka peralataa yang disiapkan antara lain adalah kamera video dengan resolusi yang memadai, tripod (kaki tiga), hardisk dengan kapasitas besar, program video editing serta storyboard. Khusus untuk stroryboard dapat disusun di lapangan sambil menyesuaikan dengan situasi setempat. Jika memungkinkan akan sangat baik jika storyboaed dibuat sesuai dengan pertanyaan riset (research questions)

Perlengkapan dan strategi riset

Melaksanakan riset pada suatu area yang benar benar baru bagi periset membuahkan tantangan tersendiri. Situasi yang benar benar baru, berlatar belakang budaya yang berbeda menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar sekaligus tantangan yang mengandung risiko tinggi, bahwa apa yang dirancang bisa meleset setalah melihat kondisi lapangan.

Untuk menyiasati area riset yang benar benar asing, singkatnya waktu yang tersedia serta banyaknya wawancara serta observasi yang akan dilakukan, maka disusun suatu strategi observasi dan wawancara secara mendetail. seluruh kegitanan akan diabadikan menggunakan kaera video, sehingga semua informasi dapat terekam secara utuh. Terdapat beberapa keuntungan penggunaan kamera video di dalam pelaksanaan riset, antara lain:

  1. semua keadaan eksisting dapat diamati dan direkan secara real time dan rekamannya  dapat diputar ulang sehingga pemahaman terhadap objek studi menjadi lebih mendalam.
  2. seringkali orang yang diwawacara memiliki logat bahasa yang berbeda dan sulit dimengerti, sehingga dengan melakukan rekaman, mimik dan gerakan bibir interviewee dapat diamati di dalam rekaman.
  3. hasil riset menjadi dokumen utuh yang merekam kondisi lapangan, pendapat serta pandangan orang yang terlibat dalam objek studi.
  4. seluruh hasl riset dapat diedit dan dijakikan film dokumenter.

Untuk dapat melakukan riset dengan memanfaatkan kamera video diperlukan suatu scenario yang detail guna menghindari pengulangan gambar atau wawancara yang dapat menganggu hasil riset. Suatu rencana observasi disusun dengan cukup mendetail mencakup rute observasi, objek yang diamati, durasi waktu perekaman,  serta timing perekaman (pagi, siang sore). Untuk perekaman wawancara, maka disusun suatu daftar pertanyaan dalam bentuk open ended question agar wawancara menjadi lebih cair dan terbuka.

Perlu diperhatikan penempatan kamera dalam pelaksanaan wawancara agar tidak mengganggu proses wawancara. Sedapat mungkin tidak dilakukan wawancara secara sembunyi sembunyi. Sebelum dilakukan wawancara terlebih dahulu disampaikan kepada interviewee bahwa seluruh proses wawancara akan direkam menggunakan kamera video. Rekaman hasil wawancara dapat diputar ulang di depan intervieweeuntuk memperoleh feedback.

Desain Penelitian

Selama pelaksanaan survey lapangan, tiga fase pengumpulan data dan aktivitas riset dilakukan. Pertama, suatu seri wawancara terbuka dilakukan terhadap beberapa informan kunci untuk memperoleh beberapa clue mendasar tentang proses perencanaan tata ruang dan issue issue partisipasi. Informan kunci dipilih dari orang yang dipandang memiliki pengetahuan tentang topik riset. Berikutnya suatu inventory terhadap spatial plan dilakukan melalui pengumpulan data dokumen. Pengumpulan data tahap kedua dilaksanakan untuk mengumpulkan dokmen dokumen yang diperlukan untuk menjawab seluruh pertanyaan riset. Terkahir suatu seri in depth interview dilakukan untuk mendapatkan pehamanan yang lebih mendalam. Interview dilakukan terhadap seluruh pihak yang terlibat di dalam perencanaan tata ruang dan masyarakat terdampak.

Di dalam setiap fase camera video dipergunakan dalam seluruh proses riset. Semua wawancara pada fase pertama dilakukan secara cepat dan on the spot untuk menghindari pengambilan kesimpulan yang prematur. Informasi yang dikumpulkan pada tahap awal hanya berupa informasi yang bersifat umum untuk memberi gambaran yang utuh tentang area riset yang masih benar benar baru. Pemilihan informan dilakukan dengan hati hati agar tidak terjebak pada pandangan informan yang dapat mempengaruhi jalannya riset secara keseluruhan. Informan yang dipilih haruslah bersifat netral, bebas kepentingan dan mampu meberikan pandangannya secara helicopter view. Dalam tahap ini dipilih informan dari Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST) serta dari kalangan LSM. Dari informan yang bersumber dari pihak kampus diharapkan diperoleh kerangka teoritis tentang penataan ruang di Afrika sementara dari LSM diharapkan permasalahn nyata di lapangan dapat digali lebih dalam.

Pada tahap kedua, observasi dilakukan dengan merekam area studi secara real time. Sejarah terbentuknya permukiman beserta jejak jejaknya dijadikan pertimbangan dalam melakukan observasi. Perbedaan lapisan sejarah terindikasi dalam perwujudan fisik permukiman dan dapat diamati secara detail melalui rekaman yang terencana. Ayigya terbagi ke dalam 3 kelompok permukiman besar yaitu Ayigya Ahenbono yang merupakan cikal bakal permukiman, berikutnya adalah Ayigya Zongo yang merupkan kaum pendatang dari kawasan utara serta yang terakhir adalah Ayigya Akatago yang merupakan permukiman baru dengan penghuni dari kalangan berpendapatan tinggi. Dari hasil pengamatan dan rekaman dapat diamati perbedaan penanganan lingkungan dari ketiga permukiman tersebut.

Untuk memperoleh gambaran kawasan secara utuh, disusun sebuah rute perjalanan observasi dengan memperhatikan beberapa titik kritis di lapangan seperti, area dengan penduduk padat, area dengan penduduk berpendapatan tinggi, menengah dan berpendapatan rendah. Keanekaragaman peruntukan ruang juga menjadi rute penting dalam pelaksanaan observasi.

Untuk memeproleh rekaman yang baik perlu disusun suatu storyboard mencakup:

  1. area yang akan diobservasi
  2. objek yang akan diamati
  3. kegiatan yang akan dijadikan sebagai titik sentral pengamatan
  4. issue yang hendak diekspose
  5. durasi rekaman

contoh suatu rencana observasi adalah sebagai berikut:

Area yang diobservasi kawasan penduduk berpendapatan rendah di pusat permukiman
Objek yang akan diamati perumahan dan sanitasi lingkungan
Kegiatan sentral Kegiatan rumah tangga dan pembuangan limbah cair rumah tangga
Issue yang hendak diekspose Perencanaan sanitasi lingkungan permukiman
Durasi rekaman 1 menit dan 40 detik

Tahap terakhir adalah satu seri in depth interview terhadap narasumber kunci sekaligus untuk melakukan triangulation. Pada tahap ini wawancara dilakkan secara lebih mendalam terhadap pemerintah dari berbagai level (metropolitan area, district level, sub district level), dari kelompok masyarakat serta dari rumah tangga. Seluruh wawancara direkam dengan terlebih dahulu meminta ijin. Wawancara dengan pemerintah umumnya lebih sulit dilaksanakan mengingat jadwal kerja yang padat. Wawancara dengan masyarakat memerlukan peranan penerjemah karena hanya sebagian kecil saja yang mampu berbahasa inggris dengan baik. Guna menghindari misinterpretasi, maka setiap hasil wawancara selalu dicrosscheck dengan data yang telah diperoleh sebelumnya. Peranan rekaman video sangat terasa dalam hal terjadi barriers bahasa antara interviewer dengan interviewee. Hasil rekaman dapat diputar berulang ulang pada tahap evaluasi sembari mencocokkan dengan hasil dari data sebelumnya.

Seluruh data yang diperoleh sebelumnya dicocokan dan cross check dengan para pelaku langsung dalam kegiatan tata ruang. Pada akhir survey lapangan seluruh data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan riset dapat dikumpulkan dalam waktu yang relative terbatas.

KESIMPULAN

Penggunaan kameravideo dalam riset lingkungan binaan belum banyak dikenal, namun jika dimanfaatkan dengan strategi yang baik akan menunjukkan hasil yang optimal. Penggunaan alat audio visual dalam pengumpulan data dapat memaksimalkan ketersediaan waktu yang cukup terbatas sehingga seluruh data yang dibutuhkan dapat terkumpul. Terdapat beberapa prasyarat kunci untuk dapat melaksanakan strategi riset dengan kamera digital antara lain:

  1. kondisi peralatan yang dipakai haruslah optimal
  2. penguasaan perangkat beserta penguasaan software video editing
  3. storyboard yang disesuaikan dengan pertanyaan riset (research questions)
  4. pemilihan angle yang baik dan penempatan kamera agar tidak menganggu proses pengumpulan data.

Di akhir riset, penggunaan kamera akan menghasilkan sebuah bonus menarik yaitu film tentang riset yang dibuat. Film yang dihasilkan bisa berupa proses pelaksanaan riset atau bisa juga film yang sama persis dengan tpik riset.

referensi

Adams, Musah and Jacqueline Dede Anum. 2005, ‘Statistical Information Resources and Development Planning in Ghana’, Information Development Vol. 21, No. 2, pp. 138-145. [Jenis ref: Journal]

Choguill, Marisa B. Guaraldo. 1996, A Ladder of Community Participation for Underdeveloped Countries’, Habitat International. Vol 20. No. 3. pp 431- 444. 1996. Pergamon. [Jenis ref: Buku]

Cities Aliance. 2006, Guide to City Development Strategy, Improving Urban Performance. City Alliance New York. [Jenis ref: Guidelines]

Hall, Peter, 2002, Urban and Regional Planning. Fourth Edition, Routledge, London . [Jenis ref: Buku]

UN-Habitat, 2008, State of African Cities 2008, United Nation Human Settlements Program, Nairobi. [Jenis ref: Buku]

Squires, Allison, 2009, ‘Methodological challenges in cross-languages qualitative research: A research review’, International Journal of Nursing Studies no 46. pp. 277-287. [Jenis ref: Journal]

Kvale, S. (1996) Inter Views: An Introduction to Qualitative Research Interviewing, Sage, Thousand Oaks, CA. [Jenis ref: Buku]

Patton, M. (1990) Qualitative Evaluation and Research Methods (2nd Edition), Sage, London. [Jenis ref: Buku]

Haigh, Richard. 2008. Interviews: A negotiated Partnership in Advanced Research Methods In the Built Environment edited by Knight, Andrew and Ruddock, Les. Blackwell Publishing Ltd. United Kingdom. [Jenis ref: Buku]

Yin, R.K. 2003. Case Study Research: Design and Methods (3rd Edition), Sage, Thousand Oaks, CA. [Jenis ref: Buku]

Remenyi, D., Money, A., Price, D. and Bannister, F. 2002. The creation of knowledge through case study research, The Irish Journal of Management, 23(2), 1–17. [Jenis ref: Journal]

Fellows, R. and Liu, A. (2003) Research Methods for Construction (2nd Edition), Blackwell Publishing, Oxford. [Jenis ref: Buku]


0 Responses to “FILM DAN RISET Riset Tata Ruang dengan Methode Case Study di Ayigya, Kumasi Ghana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: